Tips Menentukan Sepeda Mtb Yang 1×10/11, 2×10/11 Atau 3×10/11

Cassette sepeda gunung yg paling tak jarang dipakai adalah cassette 11-36t. Kalau range itu 36/11 = 3.27. Berarti yang srpocket 11t tiga.27 kali lebih berat/cepat daripada yang 36. 

Pukul homogen, berdasarkan dari satu sprocket ke lain terdapat beda lebih kurang 14% kalau gunakan sepeda 10 speed. Kalau praktek memang tidak langsung 14%, contohnya 13 ke 11 naik 18%, & kalau 21 ke 19 hanya beda 11%. 

Tapi ya sebenarnya cukup jikalau kita bilang cassette 11-36t tersebut punya 10 beda speed. (Daftar sprocket lengkap merupakan 11-13-15-17-19-21-24-28-32-36)

Kalau kita gunakan crankset tripel, apa beda? Kalau crankset tripel biasa yg pada MTB, itu 40/30/22, jikalau kita memakai 30t di depan, dapat 10 beda speed di belakang.

Kalau kita naik menurut 30 ke 40, apa beda? Mesti kita lihat perbandingan gigi.

Cassette MTB biasa mulai dengan sprocket 11, 13, 15, & jika perbandingan gigi, segini:

30/11 (yg paling berat menggunakan gigi 30) = 2.7340/11 = 3.6440/13 = tiga.0840/15 = 2.67

40/15 hampir sama dengan 30/11.

Jadi menggunakan naik berdasarkan 30 ke 40 dapat dua lebih speed, yg 40/11 & 40/13. Kalau yg 40/15 itu output sekitar sama menggunakan 30/11 (beda dua% ya tidak sanggup diraskan).

Kalau kita lihat 22t pada depan dibandingkan 30t, ya segini:30/36  (yang paling enteng menggunakan gigi 30) = 0.8322/36 = 0.6122/32 = 0.6922/28 = 0.79 

Kalau 0.79 beda sedikit menggunakan 0.83, tetapi nir begitu jauh (5%). Jadi relatif kita bilang, jikalau gigi 22 sebenarnya tambah 2 speed.

Jadi efektiv pada sepeda kita dengan 11-36t cassette & tripel crank 40/30/22 = 14 speed. Ada beda kombinasi yg hampir sama, akan tetapi sanggup bilang 3×10 = 14 speed.

Sedikit tergantung crankset kita. Ada yg misalnya 36/22, jikalau menggunakan 36/22, itu relatif jelas speed yg terenteng sama menggunakan yang 40/30/22 tadi, berarti hanya beda top speed. Kalau kita hitung 36/11 = tiga.27, 11% lebih enteng dibandingkan 40/11, dan 6% lebih berat daripada 40/13. 

So, dengan 36/22 bisa efektiv 13 speed sebernarnya, berarti di bandingkan 40/30/22 sedikit kurang kencang, akan tetapi itu hanya masalah kalau turunan di aspal, 36/11 telah relatif sekali.

Manfaat menggunakan dobel crank? Ya setelan lebih gampang, bisa sedikit lebih andal, rantai nir begitu gampang lepas. Tapi ya tripel & doble dua2 kondusif sebenarnya. Kalau berat hampir sampa dobel mungkin 50 gram lebih eteng dibandingkan tripel, tidak ada arti kan. Dan semestinya menggunakan dobel crank seluruh perbandingan gigi bisa digunakan (jika menggunakan tripel sebaiknya jangan mau besar /akbar atau kecil/mini)

Kerugiaannya merupakan kalau menggunakan 36/22 kita sebenarnya telah punya ‘high range’ & ‘low range’. Kalau pakai 32t, itu pada umumnya relatif buat keadaan di trail. Tapi jikalau 36/22, maksimalperbandingan gigi di 22t adalah dua (22/11), berarti jikalau perlu lebih kencang berdasarkan pada 32/17 (2 depan, sprocket ke-7 di belakang), kita mesti naik ke 36t di depan. 

Ada crank lain yang lebih kedap, seperti 38/28, 36/26 atau 34/24 yg mampu kita pilih sesuai dengan kebutuhan kita. Karena lebih rapat, crank ini lebih gampang , akan tetapi jikalau kita cerita range, mungkin nir lagi 13 speed tinggal 12 speed. 

Untuk 1×10 ataupun 1×11, FD, kabel dan front shifter dibuang. Dapat di kurangi berat sepeda kurang lebih 300 gram tergantung groupset. 

Seperti sudah dibuktikan, jika hanya satu chainring range akan kurang. Untuk mengembalikan range, cassette pada bikan lebih besar . Dengan 10 speed 11-36t menjadi 11-42t, & 11-speed bisa juga 11-42t ataupun 11-46t.

Kalau singel crank ada 30t, 32t, 34t atau 36t. 38t ada pula buat downhill. Yang paling sering dipilih adalah 32t. Kalau dengan 32t, kita otomatis mengurangi kecepatan maksimal , karena degan tripel mungkin ada 40 di depan, & dobel 38 atau 36. Kalau di bandingkan 32/11, itu kurang lebih sama menggunakan 40/13.5, jadi dibadingkan tripel crank hilang satu atau lebih speed yang terberat.

Kalau gigi enteng, dengan 32/42 (10-speed), itu sama dengan 22/28, berarti di bandingkan 40/30/22 11-36, 2 speed yang terenteng hilang. Kalau nir pernah digunakan ya nir masalah. Kalau perlu, ya mampu jua gunakan 30t di depan (mudah di ganti), hasilnya memindahkan speed yg berat ke enteng. 

3×10 = 14 speed efektiv2x10 = 13 speed menggunakan 36/22 atau 12 speed dengan misalnya 36/261×10 = 10 speed, akan tetapi range sama dengan 11 speed. 

Keuntungan dengan sistem 1x ya sistem lebih sederhana lagi, lebih higienis penampilan, sedikit lebih enteng (300 atau 400 gr). Kerugiaan, ya sudah nir sefleksibel misalnya sebelumnya, dan cassette pasti lebih mahal. pula, kalau cassette sendiri, 11-36t lebih rapat jadi lebih lancar dibandingkan 11-42t pada beberapa sprocket). Tapi mungkin seluruh sistem lebih lancar menggunakan 1x.

Kalau 1×11 bisa gunakan 11-42 jua, dan teori persis sama, akan tetapi sering dijual sepeda dengan cassette 11-46t. Kalau cassette 11-46t, range sama misalnya 12 speed di sistem 10-speed yg biasa. Hanya, Shimano sedikit kurang ajar tidak mau merombak gigi pada bandingkan cassette 11-46t yg 11-speed, jadi sama dari 11 ke 32t, menggunakan output melonjak berdasarkan 32 ke 37 ke 46. Kalau 37 ke 46, itu beda 9 gigi ya relatif ekstrim, 25%, desain kurang mengagumkan. Kalau cassette Sunrace lebih baik sedikit dalam hal itu, lantaran terdapat 32-36-40-46, jadi shifting ke gigi yang terbesar pasti lebih lancar. 

Untuk kesimpulan ya semua sistem punya manfaat dan kekurangan, sekarang marketing sangat bertenaga buat 1x karena perusahan memang perlu alasan buat jual sepeda baru… Dasar semestinya shifting pada 1×10 atau 1×11 paling lancar, akan tetapi karena kita mungkin perlu casssette yg besarseperti 11-46t buat bisa range yg kita ingin, tidak seenak misalnya diperlukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *