Memilih Sepeda

Setelah menikmati relatif lamabersepeda di Jogja, gw mulai memiliki keinginan untuk memiliki sebuah sepeda di kota tercinta. Memang yah, jikalau sudah jatuh cinta jadi punya rasa ingin memiliki, padahal kan cinta tak harus mempunyai. #eeaa

Demikian cinta, deritanya tiada akhir *patkai mode* Sekitar 3 bulan yang lalu aku mulai melakukan survei sepeda, baik merek, tipe, & hal-hal rinci lainnya misalnya apakah rangkanya alumunium atau besi hi-ten? apa remnya masih v-brake atau telah cakram? dst.

Tahu sendiri kan geek itu misalnya apa? bila tertarik menggunakan sesuatu, Ia akan mempelajarinya secara rinci dan mendalam, menurut kulit hingga daleman. Dan pengetahuannya akan bertambah seiring menggunakan ketika. Berbanding lurus begitu.

Seperti halnya memilih calon istri, dalam menentukan sepeda saya mempunyai beberapa pertimbangan. Pertimbangan pertama adalah kebutuhan. Kebetulan kebutuhan saya merupakan sepeda buat pemula, bisa di jalan rusak dan blusukan, cukup berkualitas, serta paling nir pula mampu di-upgrade sedikit demi sedikit (lama-usang sebagai bukit.) Ingat kan, aku sukamerakit, jadi sepeda yg dibeli harus memberikan ruang buat dibongkar-pasang.

Pertimbangan yang kedua merupakan pertimbangan dana yang tersedia. Saya menganggarkan dana nir lebih dari 2 juta rupiah.

Pertimbangan yang ketiga merupakan peruntukan, apa ya istilah yang pas? Maksudnya sepeda ini ditujukan untuk apa? apakah jalan di aspal halus (road bike) atau sepeda gunung (MTB)? MTB sendiri punya jenis-jenis misalnya:Cross Country (XC) yaitu buat blusukan di hutan, sawah, & sejenisnya.Down Hill (DH) yakni buat menuruni bukit yg terjal penuh onak & duri *lebai*Dirt Jump (DJ) merupakan buat melompati kotoran #eh, maksudnya melompat, terbang, bergaya di udara, lalu mendarat dalam landasan pada seberang.Freeride, slalom, & lain-lain.

Kategori MTB secara umum berada pada XC, minimal XC ringan atau rekreasi. Dan di MTB sendiri terdapat yg nir punya suspensi, suspensi depan saja (hard tail,) & depan-belakang (full suspension.)

Dari pertimbangan-pertimbangan tersebut bisa dipengaruhi merek sepeda yang akan dibeli merupakan merek lokal. Ya kentara, wong gw jua sukaproduk dalam negeri :p Jadi, merek-merek seperti Specialized, Scott, Kona, & lain-lain tersingkir dengan sendirinya. Dari sisi harga pun tidak ramah pada kantong dan tidak sinkron dengan kriteria sepeda untuk pemula[1].

Gambar oleh Andy Armstrong menggunakan lisensi CC-BY-SA

Langsung saja sebut merek lokal: Polygon, Wim Cycle, United, Pacific, Best Friend. Dua yang terakhir pribadi saya coret saja karena sepak terjangnya belum terbukti. Kalau sepeda merek pemula dinaiki pesepeda pemula nanti jadi tidak saling mengisi, takut pesepedanya tidak mampu naik taraf.

Dari ketiga merek tadi yg mungkin sesuai adalah tipe Polygon Premier 2.0, United Avalanche, & Wim Cycle Road Champ. Yak sahih, aku menentukan hard-tail. Tipe terakhir dieliminasi lantaran nir sebanding dengan spesifikasi 2 tipe sebelumnya.

Setelah meramban web & mengunjungi toko-toko sepeda selama ~3 bulan, akhirnya, aku memilih *rolling* United Avalanche! Terima kasih seluruh atas pelayanan & warta yang dibagi pada Internet. Ilmu pengetahuan milik global!

[1] Ada sepeda merek Element dari Taiwan, cukup indah+pas di kantong, tapi bukan produk lokal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *