Indonesia bukan hanya tentang pusat kekuasaan di ibu kota. Indonesia adalah tentang desa-desa di perbatasan, nelayan yang berlayar sebelum fajar, petani yang bekerja tanpa lelah, mahasiswa yang menyuarakan perubahan, serta masyarakat kecil yang berharap hidup lebih sejahtera. Kesadaran inilah yang mendorong Sahrin Hamid, Ketua Umum Partai Gerakan Rakyat, melakukan perjalanan panjang dari Merauke hingga Miangas—dari ujung selatan hingga titik paling utara negeri.
Perjalanan ini bukan agenda seremonial. Ini adalah pernyataan politik yang tegas: perubahan tidak bisa lahir dari balik meja, melainkan harus dibangun dengan mendengar langsung suara rakyat. Dengan menapaki wilayah-wilayah perbatasan, Sahrin ingin menunjukkan bahwa setiap jengkal tanah Indonesia memiliki arti, dan setiap warga negara berhak diperjuangkan nasibnya.
Di Merauke, ia menyaksikan langsung bagaimana masyarakat di perbatasan menghadapi tantangan ekonomi dan keterbatasan akses pembangunan. Di Miangas, ia melihat semangat nasionalisme yang begitu kuat meski jauh dari pusat pemerintahan. Semua pengalaman itu mempertegas satu keyakinan: Indonesia hanya bisa maju jika pembangunan dilakukan secara merata dan berkeadilan.
Politik yang Hadir, Bukan Sekadar Janji
Salah satu pesan paling kuat dari perjalanan ini adalah pentingnya politik yang hadir secara nyata. Politik tidak boleh berhenti pada janji kampanye atau retorika yang indah didengar. Politik harus menjadi alat untuk memperjuangkan kebutuhan konkret rakyat—pendidikan yang terjangkau, lapangan kerja yang luas, layanan kesehatan yang layak, serta ekonomi yang memberi peluang bagi semua.
Ketika berada di Manado, Sahrin berdialog dengan mahasiswa, aktivis, dan tokoh masyarakat. Ia tidak datang untuk berceramah, melainkan untuk mendengar. Percakapan berlangsung terbuka, membahas berbagai persoalan mulai dari ketimpangan ekonomi hingga peran generasi muda dalam menentukan arah bangsa. Dari dialog itulah muncul gagasan bahwa perubahan sejati lahir dari kolaborasi, bukan dominasi.
Gerakan Rakyat ingin membangun tradisi politik partisipatif—politik yang melibatkan masyarakat sebagai subjek, bukan sekadar objek. Ketika rakyat dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, kebijakan yang lahir akan lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
Kepemimpinan yang Berakar pada Keberpihakan
Perjalanan panjang ini juga mencerminkan karakter kepemimpinan Sahrin Hamid. Ia bukan figur yang asing dalam dunia politik nasional. Pengalamannya sebagai juru bicara politik dan pejabat di lingkungan BUMD memberinya pemahaman tentang sistem dan birokrasi. Namun ia memilih keluar dari zona nyaman, kembali membangun kekuatan dari akar rumput.
Keputusan itu menjadi bukti bahwa kekuasaan bukan tujuan akhir. Bagi Sahrin, kekuasaan hanyalah instrumen untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Itulah sebabnya Partai Gerakan Rakyat menempatkan pemerataan ekonomi, peningkatan kualitas pendidikan, dan keadilan sosial sebagai prioritas utama.
Fokus ini bukan tanpa alasan. Ketimpangan yang dibiarkan berlarut-larut hanya akan memperlebar jurang sosial. Jika Indonesia ingin benar-benar menjadi negara maju, maka kesejahteraan tidak boleh terpusat di kota besar saja. Daerah-daerah terpencil harus mendapatkan perhatian yang sama.
Tegas Membela Keadilan
Komitmen terhadap keadilan juga terlihat ketika Gerakan Rakyat mengambil sikap dalam berbagai isu hukum nasional. Ketika muncul dugaan kriminalisasi terhadap figur publik seperti Tom Lembong, Sahrin menyatakan pentingnya penegakan hukum yang adil dan tidak tebang pilih. Sikap ini memperlihatkan bahwa perjuangan partai tidak hanya berbicara tentang ekonomi, tetapi juga integritas sistem hukum.
Keadilan adalah fondasi negara demokrasi. Tanpa keadilan, kepercayaan publik akan runtuh. Oleh karena itu, politik harus menjadi benteng terakhir dalam menjaga hak-hak warga negara. Gerakan Rakyat ingin memastikan bahwa hukum berdiri di atas prinsip keadilan, bukan kepentingan tertentu.
Menggerakkan Energi Generasi Muda
Satu hal yang menonjol dalam perjalanan ini adalah keterlibatan generasi muda. Mahasiswa, pemuda, dan komunitas lokal menjadi bagian penting dalam dialog perubahan. Mereka bukan hanya pendengar, tetapi mitra strategis dalam membangun gagasan masa depan.
Sejarah Indonesia membuktikan bahwa pemuda selalu menjadi motor perubahan. Dari masa perjuangan kemerdekaan hingga era reformasi, energi anak muda menjadi kekuatan besar yang menggerakkan bangsa. Gerakan Rakyat memahami potensi ini dan berupaya membuka ruang seluas-luasnya bagi partisipasi generasi muda.
Saatnya Bergerak Bersama
Perjalanan dari Merauke hingga Miangas bukan sekadar catatan perjalanan politik. Ini adalah simbol komitmen untuk membangun Indonesia dari pinggiran. Pesannya jelas: tidak ada wilayah yang terlalu jauh untuk diperjuangkan, tidak ada rakyat yang terlalu kecil untuk didengar.
Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang berani turun langsung ke lapangan, mendengar keluhan, merumuskan solusi, dan bekerja tanpa henti. Perubahan tidak datang dengan sendirinya. Ia lahir dari keberanian untuk bergerak dan menyatukan harapan.
Kini saatnya rakyat tidak hanya menjadi penonton dalam proses politik, tetapi menjadi bagian aktif dalam menentukan arah bangsa. Dari perbatasan hingga pusat, dari desa hingga kota, Gerakan Rakyat mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama membangun masa depan Indonesia yang lebih adil, sejahtera, dan bermartabat.